Senin, 20 Maret 2017

Research in Education

RESEARCH IN EDUCATION
(MASALAH PENELITIAN DAN TINJAUAN PUSTAKA)

MAKALAH
Diajukan  untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Metodologi dan Statistik Penelitian Manajemen Pendidikan Lanjut
Dosen
Prof. Dr. H. Sutaryat Trisnamansyah
Dr. H. Husen Saeful Insan, M.M.Pd











                                                          


Disusun oleh
Apep Munajat
Heri Kuswara
Anjenk Jamaludin Malik
Deri Jmaludin Basari
Saepul Mubarok
Aris Adi Leksono



PROGRAM DOKTOR ILMU PENDIDIKAN (S3)
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2017




KATA PENGANTAR

Kita panjatkan puji dan syukur ke Hadirat Allah SWT bahwasannya makalah ini dapat diselesaikan secepatnya.hal ini karena Tanpa pertolongan dan irodah-Nya makalah ini akan sulit terwujud. Shalawat dan salam marilah kita sampaikan kepada Jungjunan Alam yakni Nabi Muhammad SAW.
Maksud dan tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi syarat Mata Kuliah Metodologi dan Statistik Penelitian Manajemen Pendidikan Lanjut dari dosen Prof. Dr. H. Sutaryat Trisnamansyah dan Dr. H. Husen Saeful Insan, M.M.Pd. makalah ini merupakan bahan persentase dan diskusi kelompok yang akan ditampilkan pada hari Sabtu, tanggal 25 April 2017.
Isi makalah ini adalah tentang “masalah penelitian dan tinjauan pustaka” yang diambil dari buku Research in Education karangan  James McMillan dan Sally Schumacher.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada para dosen mata kuliah Metodologi dan Statistik Penelitian Manajemen Pendidikan Lanjut yaitu Prof. Dr. H. Sutaryat Trisnamansyah Dr. H. Husen Saeful Insan, M.M.Pd serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyelesaian makalah ini  tertama anggota kelompok 1 yaitu Apep Munajat, Heri Kuswara, Jamaludin, Deri Jmaludin Basari, dan Saepul Mubarok. Semoga kita mendapat ridho dan magpiroh dari Allah SWT.
                                                                                    Bandung, Maret 2017
                                                                                                Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan
BAB II MASALAH PENELITIAN DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Masalah Penelitian
2.1.1 Sumber Masalah
2.1.2 Perumusan Masalah dalam Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
2.2  Tinjauan Pustaka
2.2.1        Tujuan dari Tinjauan Pustaka
2.2.2        Langkah-langkah Melakukan Tinjauan Pustakas
2.2.3        Proses Pencarian Literatur
2.2.4        Sumber untuk Tinjauan Pustaka
2.2.5        Tinjauan Pustaka pada Penelitian Kualitatif
2.2.6        Cara Penulisan Kajian Pustaka
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua unsur penting dalam kehidupan manusia. Bahkan mungkin tidak bisa dipisahkan lagi. Kedua unsur ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi indikator kemajuan suatu bangsa menuju modernisme.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa lepas dari kegiatan penelitian dan eksperimen. Hal ini karena melalui faktor inilah –penelitian dan eksperimen—alat yang dapat digunakan untuk mencapai suatu kemajuan baik ilmu pengetahuan maupun teknologi.  Kita maklumi bersama bahwa melalui penelitianlah ditemukan inovasi ilmiah tentang suatu ilmu pengetahuan dan teknologi. Temuan-temuan baru tentang kemajuan pengetahuan manusia inilah diperolehnya  melalui research.
Begitu pentingnya melakukan penelitian untuk mencapai kemajuan suatu bangsa maka  McMillan dan Schumacher  telah menulis sebuah karya fenomenal dalam sebuah buku berjudul Research in Education.  Buku ini  menggambarkan hal ikhwal penelitian secara pragmatis dimulai dari prinsip dasar sebuah penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif sampai dengan bagaimana mengevaluasi sebuah penelitian yang telah dilakukan.
Bab 2 dan 3 pada buku  Research in Education karangan McMillan dan Schumacher menekankan pada bagaimana kita memulai sebuah research dengan memunculkan berbagai masalah yang dapat diteliti dan dapat dicarikan data empiriknya. Dijelaskan pula bagaimana merumuskan masalah dan kuantitatif dengan menggunakan pendekatan deduktif dan perumusan masalah kualitatif dengan pendekatan induktif  (Bab 3). Pada bagian lain dijelaskan tentang tinjauan pustaka dan langkah-langkah  menemukan, mencari, dan mengupas literatur baik untuk penelitian kuantitatif maupun kualitatif (Bab 4).   

1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut
A.    Bagaimana masalah dalam penelitian?
B.     Bagaimana tinjauan pustaka dalam penelitian?

1.3  Tujuam
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah
A.    Untuk mengetahui masalah dalam penelitian.
B.     Untuk mengetahui tinjauan pustaka dalam penelitian.



BAB II
MASALAH PENELITIAN DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Masalah Penelitian
Sebuah penelitian diawali dari masalah karena penelitian pada hakikatnya bertujuan untuk memecahkan masalah. Masalah berbeda dengan rumusan masalah. Masalah adalah kesenjangan (gap) antara harapan dengan kenyataan. Kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan. Kesenjangan antara perencanaan dengan pelaksanaan. Kesenjangan antara kebijakan dengan implementasi.  Dari McMillan dan Schumaker disebutkan bahwa masalah memiliki arti sederhana dan teksnis. Secara sederhana masalah merupakan seperangkat keadaan yang memerlukan diskusi, keputusan, solusi ataupun informasi. Masalah penelitian harus dicarikan jawabannya dengan mengupulkan data-data empirik lalu dianalisis.  Dan masih banyak lagi pengertian lainnya dari masalah.
2.1.1 Sumber Masalah
Masalah dapat diperoleh dari berbagai sumber. Sumber – sumber tersebut di antaranya observasi, deduksi dari teori, pustaka terkait, isu sosial dan politik tertentu, situasi praktis, dan pengalaman dan wawasan pribadi. Dari beberapa sumber itu dapat dijelskan sebagai berikut.
a.      Observasi
Dari observasi akan menghasilkan dan ditemukan masalah-masalah  yang dapat dijadikan sember penelitian. Akurasi masalah yang diperoleh melalui observasi akan lebih baik karena masalah diperoleh secara langsung melalui pengamatan di lapangan. Bukan melalui praduga yang akurasi masalahnya belum jelas. 
b.      Deduksi dari teori
Dari kajian teori dapat dihasilkan masalah yang dapat diangkat dalam penelitian selanjutnya. Tujuannya untuk diuji kembali teori tersebut secara empirik. Tujuan lain adalah untuk mendapat penjelasan ilmiah (empirik) praktis tentang teori.  
c.       Pustaka terkait
Laporan penelitian dapat menginspirasi kita dalam menemukan sebuah masalah. Hasil penelitian orang lain merekomendasikan agar dilakukan penelitian ulang dalam subjek dan tempat yang berbeda.
d.      Isu sosial
Isu sosial yang terjadi di masyarakat dapat mengisnpirasi kita dalam memunculkan masalah yang dapat diteliti secara empirik. Gejala sosial begitu kaya akan masalah yang perlu ditemukan pemecahannya. 
e.      Situasi praktis
Dari implementasi sebuah kebijakan atau peraturan sering kita menemukan banyak masalah di lapangan sehingga mendesak kita untuk melakukan penelitian.

f.       Pengalaman dan wawasan pribadi
Dari pengalaman pribadi pun dapat menginspirasi kita dalam memunculkan masalah. Masalah yang ditemukan dalam kehidupan dan pekerjaan kita akan lebih besar manfaat karena secara tidak langsung kita akan dicarikan solusi empiriknya sehingga permasalahan itu akan cepat diselesaikan. 
 2.1.2 Perumusan Masalah dalam Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Rumusan masalah berbeda dengan masalah penelitian. Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui penelitian. Namun rumusan masalah dimunculkan dari uraian masalah sbelumnya. Sehingga antara masalah dan rumusan masalah masih memiliki hubungan dan keterkaitan yang jelas.   
A.      Perumusan Masalah Kuantitatif
Bentuk masalah pada penelitian kuantitatif didasarkan pada tingkat eksplanasi yang terdiri dari rumusan masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
a)      Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah rumusan masalah yang berupa pertanyaan  terhadap keberadaan variabel mandiri. Dalam penelitian dengan rumusan masalah ini peneliti tidak  membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain dan tidak mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain. Penelitian semacam ini dinamakan penelitian deskriptif (Sugiono, 2009: 56).
Contoh Seberapa tinggi efektivitas kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia?
b)      Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan Masalah Komparatif adalah rumusan  masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh rumusan maslah komparatif:

Adakah perbedaan motivasi belajar antara murid dari sekolah negeri dan swasta? ( variabel penelitian adalah prestasi belajar prestasi belajar pada dua sampel yaitu sekolah negeri dan swasta).
c)      Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan adalah rumusan suatu masalah yang sifatnya menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Ada tiga bentuk hubungan yaitu simetris, kausal, dan interaksi. Hubungan simetris artinya suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersamaan. Hubungan kausal adalah hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Hubungan interaksi adalah hubungan yang saling mempengaruhi.
d)       Perumusan Masalah Kualitatif
Seperti halnya penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif juga ditentukan berdasarkan tingkat eksplanasinya. Bentuk rumusan masalah pada penelitian kualitatif terdiri dari rumuusan masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
Rumusan masalah deskriptif  adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasiasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas, dan mendalam. Misalnya: Bagaimana profil pendidikan di Indonesia?
Rumusan maslah komparatif  adalah  rumusan masalah yang memandu peneliti untuk  membandingkan antara konteks sosial atau domain satu debandingkan dengan yang lain. Misalnya: Adakah perbedaan dinamika murid di kelas yang diajar dengan metode ceramah dan demosntrasi?
Rumusan masalah asosiatif (hubungan) adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya. Rumusan masalah ini terdiri dari beberapa bentuk,  yaitu:simetris, kausal, dan reciprocal.  

2.2 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka adalah kegiatan yang meliputi mencari, membaca, dan mendengarkan laporan-laporan penelitian dari bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kegiatan ini merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian. Dalam tinjauan pustaka, seorang peneliti mengungkapkan beberapa hasil temuan penelitian sebelumnya, yang memiliki kaitan erat dengan penelitian yang akan dilakukan.
2.2.1        Tujuan tinjauan pustaka
Pada umumnya tinjauan pustaka bertujuan untuk menemukan teori-teori, konsep, dan generalisasi tentang masalah yang diangkat dalam penelitian. Adapun tujuan spesifik dari tinjauan pustaka adalah
1)        Menemukan dan membatasi masalah
2)        Menentukan variabel-variabel penelitian yang penting dan menentukan hubungan antarvariabel penelitian
3)        Mengetahui Apa yang Pernah Dilakukan dalam Penelitian Sebelumnya dan Menentukan Apa yang Perlu Diteliti Sekarang
4)        Menghindari plagiasi dan duplikas
5)        Merangkum Pengetahuan yang Berkaitan dengan Topik Penelitian
6)        Menemukan Penjelasan yang dapat Membantu dalam Menafsirkan Data Penelitian
7)        Mengkaji akar permasalahan.
8)        Mendalami landasan teori
2.2.2        Langkah-langkah Melakukan Tinjauan Pustaka
Dalam melakukan tinjauan pustaka diperlukan langkah-langkah yang sistematis agar tinjauan pustaka berbobot. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.        Menganalisis pernyataan masalah
Sebelum membaca literatur diawali dulu dengan menganalisis masalah agar kita mudah mengumpulkan dan mengidentifikasi konsep atau variabel yang berkaitan dengan masalah tersebut.
2.        Membaca abstrak laporan-laporan hasil penelitian yang relevan, bisa didapatkan dari sumber perpustakaan, jurnal, buku, dan prosiding.
3.        Membuat catatan hasil bacaan dengan cara membuat peta literatur (literature map) urutan dan keterkaitan topik penelitian dan referensi bibliografi secara lengkap.
4.        Membuat ringkasan literatur secara lengkap berdasarkan peta literatur, sesuai dengan urutan dan keterkaitan topik dari setiap variabel penelitian.
5.        Membuat kajian pustaka dengan menyusunnya secara tematis berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep penting yang berkaitan dengan topik dan variabel penelitian.
6.        Pada akhir kajian pustaka, kemukakan pandangan umum tentang topik penelitian yang dilakukan berdasarkan literatur yang ada, dan jelaskan orisinalitas dan pentingnya topik penelitian yang akan dilakukan di banding dengan literatur yang sudah ada.

2.2.3        Proses Pencarian Literatur
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam pencarian literatur baik secara manual maupun menggunakan komputer seperti yang dikemukakan oleh Fraenkel & Wallen adalah sebagai berikut.  
       Langkah-langkah secara manual meliputi:
1)   Menetapkan permasalahan penelitian setepat mungkin.
2)   Membaca dengan teliti  sumber-sumber utama dan sumber-sumber tambahan.
3)   Memilih referensi umum yang tersedia.
4)   Merumuskan syarat penelitian.yang berhubungan dengan masalah
5)   Mencari referensi umum untuk sumber utama yang relevan
6)   Mendapatkan sumber utama, beri simpulan utama (dianasilaswati.blogspot.com)
Masih menurut Fraenkel & Wallen dalam dianasilaswati.blogspot.com dikemukakan langkah-langkah melaksanakan tinjauan literatur dengan menggunakan komputer. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1)   Mendefinisikan masalah setepat mungkin
2)   Menentukan perluasan penelitian
3)   Menentukan database
4)   Memilih deskriptor
5)   Mengadakan penelitian
6)   Mendapatkan print out referensi yang diperlukan
Schumacher dalam bukunya yang berjudul Research in Eduaction  menjelaskan proses langkah pencarian literatur melalui komputer sebagai berikut:
1)   MSchumakerenganalisis masalah penelitian
2)   Menentukan jenis pencarian
3)   Memilih indeks untuk literatur utama
4)   Memilih deskriptor dan istilah deskripsor
5)   Melakukan pencarian komputer
6)   Menganalisis print out
7)   Menemukan referensi

2.2.4        Sumber untuk Tinjauan Pustaka
Schumacher da McMillan mengemukakan bahwa sumber tinjauan pustaka ada dua macam yaitu literatur utama dan literatur kedua. Literatur utama adalah studi penelitian orisinal atau tulisan para ahli teori atau peneliti. Literatur utama mengandung teks utuh dari laporan penelitian atau teori sehingga lebih mendetail dan bersifat teknis. Contoh literatur utama adalah studi empiris yang diterbitkan pada jurnal atau ditempakan pada database, laporan peneliti, risalah sekolah, dan disertasi.
Literatur kedua meninjau penelitian terdahulu dan menyintesis studi teoretis dan empiris; memberikan ikhtisar cepat dari setiap studi orisinal tetapi menyebutkan pedoman yang luas pada bidang pengetahuan umum mengenai apa yang telah dilakukan pada topik, dan isi untuk menempatkan sumber utama terbaru ke dalam kerangka kerja. Contoh literatur kedua adalah risalah, artikel dan ensiklopedia, dan jurnal yang mengandung tinjauan dari penelitian. Literatur kedua mungkin terlihat seperti menggabungkan sumber utarna ke dalam satu kesatuan kerangka kerja.
Kalau kita ambil simpulan mengenai sumber literatur atau sumber referensi terdiri atas referensi umum, sumber-sumber utama, dan sumber-sumber penunjang atau tambahan. Referensi umum merupakan sumber pertama dalam penelitian. Melalui referensi umum ini peneliti dapat melihat dan menemukan sumber-sumber lain, seperti artikel, monograf, buku-buku, dan dokumen-dokumen lain yang berkaitan langsung dengan penelitian. Sumber utama merupakan sumber yang berkaitan langsung dengan penelitian. Dalam bidang pendidikan, sumber-sumber utama ini biasanya berupa laporan dan jurnal. Sumber tambahan atau penunjang biasanya mengarah pada terbitan yang berupa hasil kerja, biasanya berupa buku teks, ensiklopedia, tinjauan buku-buku tahunan.
2.2.5        Tinjauan Pustaka pada Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Menurut McMillan & Schumacher(2003) adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di tempat penelitian. Penelitian kualitatif berusaha mendapatkan pemahaman tentang gejala atau situasi yang diteliti melalui pendekatan secara induktif
Terkait tinjaun pustaka pada penelitian kualitatif, dalam penelitian kualitatif harus konsisten dengan asumsi metodologis yang menekankan pada pemikiran induktif. Literature kualitatif  berfungsi untuk mencari informasi dan membangun gambaran tentang hal yang diteliti berdasarkan ide/pemikiran yang berkembang.
Tindakan selanjutnya tinjauan pustaka dalam penelitian kualitatif dapat memperhatikan tipe metode penggunaan tinjauan pustaka seperti pada tabel di bawah ini
Tabel 1. Tipe metode penelitian kualitatif dan penggunaan literature
Penggunaan literature
Contoh tipe metode yang sesuai

Literature digunakan utuk membingkai/membatasi masalah penelitian dalam pengantar/pendahuluan

Secara umum digunakan untuk semua tipe penelitian
Literature dikemukakan pada bagian terpisah atau tersendiri yaitu sebagai “Kajian Pustaka”
Banyak digunakan pada penelitian-penelitian yang menggunakan teori yang kuat, dan latar belakang teori pada bagian awal penelitian

Literatur disajikan pada bagian akhir penelitian, sebagai dasar untuk melakukanperbandingan dan pertentangan temuan-temuan dalam penelitian kualitatif.
Pendekatan ini dapat digunakan untuk semua jenis penelitian kualitatif, khususnya grounded theory, di mana peneliti mengkontraskan atau membandingkan teori yang dimilikinya dengan teori yang ditemukan dalam literature


2.2.5.1           Cara Penulisan Kajian Pustaka
Secara umum penulisan kajian pustaka pada penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Mencantumkan hasil-hasil penelitian yang relevan dan terbaru
b.      Mengemukakan pembahasan secara cukup luas dan mendalam sehingga dapat diketahui kedalaman pemahaman peneliti
c.       Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan kaidah bahawa Indonesia baku.
d.      Menyajikan tulisan dengan alur yang mengalir dan menggunakan istilah0istilah ecara konsisten
e.       Menggunakan sub-sub judul agar kerangka berpikir yang membingkai pemikiran penulis lebih efektif. Hal ini juga memudahkan pembaca untuk memahaminya.
Secara umum organisasi penulisan kajian pustaka dibagi ke dalam tiga bagian penulisan, yaitu bagian awal berupa pengantar, batang tubuh, dan bagian akhir berupa kesimpulan.
1.      Pengantar. Berisi uraian tentang bagaimana urutan penyajian dan kerangka pemikiran penulis. Bagian ini berfungsi untuk membantu pembaca dalam mengorganisasikan apa yang dibacanya.

2.      Batang tubuh.
Bagian ini dimulai dengan menyampaikan uraian tentang definisi dari variable yang akan digunakan dalam penelitian, diakhiri dengan menyimpulkan pengertian (definisi) menurut penulis, yang akan digunakan sebagai batasn dan acuan untuk melakukan penelitian.
3.      Kesimpulan.
Pada bagian akhir dari penulisan kajian pustaka peneliti perlu melakukan penyimpulan/konklusi terhadap teori-teori yang telah diuraikan, dikaitkan dengan masalah yang akan diteliti. Penyimpulan ini sebaiknya bukan hanya merupakan pengulangan dari uraian yang telah dikemukakan terdahulu. Dalam hal ini peneliti hendaknya dapat memposisikan penelitian yang akan dihasilkannya dalam konteks kajian pustaka atau teori yang terkait.






BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
Sebuah penelitian harus diawali oleh masalah. Sumber masalah dapat diperoleh  melalui observasi, deduksi dari teori, pustaka terkait, isu sosial, situasi praktis dan Pengalaman dan wawasan pribadi.
Tinjauan pustaka merupakan kegiatan yang meliputi mencari, membaca, dan mendengarkan laporan-laporan penelitian dari bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kegiatan ini merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penelitian. Dalam tinjauan pustaka, seorang peneliti mengungkapkan beberapa hasil temuan penelitian sebelumnya, yang memiliki kaitan erat dengan penelitian yang akan dilakukan

3.1    Saran
Meski begitu rumitnya menyusun sebuah masalah dalam penelitian namun tanpa kita memulai penelitian pun tak akan pernah terwujud. Memulai mengidentifikasi masalah dari seputar kehidupan kita berarti kita telah memulai untuk menuntaskan masalah.
Bagi peneliti pemula terutama siswa program doktor UNINUS sebaiknya memulai sejak dini agar semakin lama kita semakin terbiasa menemukan masalah, mengidentifikasi masalah, kemudian menuntaskan masalah melalui kegiatan penelitian, dan melaporkan atau mempublikasikan ke khalayak melaui berbagai sumber yang relevan seperti majalah, jurnal, atau koran di sekitar kita.
DAFTAR PUSTAKA
Mc.Millan dan Sally Schumacher. 2003. Research in Education. Versi terjemahan Sekolah Pascasarjana Program Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Islam Nusantara

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta


Sumber dari Inernet

dianasilaswati.blogspot.com. diakses pada hari Senin tgl 19 Maret 2017

Sabtu, 12 November 2016

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROJEK BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MUTU PROSES DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI TINGKAT MADRASAH TSANAWIYAH/SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROJEK BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MUTU PROSES DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI TINGKAT MADRASAH TSANAWIYAH/SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

ABSTRAK
Apep Munajat
Guru Bahasa Indonesia di bawah
Kementerian Agama Kabupaten Cianjur
apepmunajat@gmail.com

Telah banyak inovasi yang dilakukan pemerintah demi peningkatan mutu pendidikan nasional. Inovasi itu semua bermuara kepada guru. Gurulah menjadi penopang keberhasilan mutu pendidikan. Realita di lapangan menunjukkan kurang berkualitasnya guru, sehingga menyebabkan pengaruh terhadap rendahnya kualitas lulusan peserta didik. Salah satu faktor rendahnya mutu guru adalah dalam hal pengelolaan kelas misalnya tidak dikuasainya model pembelajaran sehingga proses pembelajaran di kelas tidak terarah. Salah satu model pembelajaran yang relevan dengan pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 adalah model Projek Based Learning (PJBL). Rumusan masalah pada makalah ini adalah “Bagaimana implementasi model pembelajaran Projek Bbased Learning (PJBL) pada pembelajaran bahasa Indonesia? Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan implementasi model pembelajaran Projek Bbased Learning (PJBL) pada pembelajaran bahasa Indonesia. Permasalahan yang timbul dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah seberapa jauh kemampuan guru mengimplementasikan model-model pembelajaran termasuk model pembelajaran PJBL. Di dalam pembelajaran PJBL dapat digunakan dengan empat langkah penting yang harus teraktualisasi dalam persiapan pembelajaran. Langkah-langkah tersebut adalah penentuan pertanyaan, menyusun perencanaan proyek, menyusun jadwal, monitoring, menguji hasil, dan evaluasi pengalaman.
Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek mampu menambah pengalaman belajar peserta didik karena mereka dibawa ke alam kongkret sebagai pengejewantahan dari materi pembelajaran. Peserta lebih mudah memahami dan proses serta materi pembelajaran mudah diingat dan akan melekat lebih lama dalam memori peserta didik.

Kata kunci : Model Pembelajaran Projek Based Learning (PJBL), mutu proses dan hasil belajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia
 
IMPLEMENTATION PROJECT BASED LEARNING MODEL TO IMPROVE QUALITY LEARNING PROCESS AND RESULTS OF LEARNING STUDENTS IN SUBJECT AT THE INDONESIAN MTs / JUNIOR HIGH SCHOOL

ABSTRACT

Apep Munajat
Indonesian teachers under
Ministry of Religious Affairs Cianjur Regency
apepmunajat@gmail.com

Has many innovations made by the government for the sake of improving the quality of national education. Innovation it all comes down to the teacher. Master is the backbone of the success of the quality of education. Reality on the ground shows less berkualitasnya teachers, thus causing the effect of the poor quality of graduate students. One factor is the low quality of teachers in classroom management such as not mastered the learning model so that the learning process in the classroom are not directional. One model of learning that is relevant to the scientific approach to the curriculum in 2013 is a model of Project Based Learning (PJBL). Formulation of the problem in this paper is "How is the implementation of learning Project Based Learning model (PJBL) in the Indonesian language learning? The goal in this paper is to identify and describe the implementation of learning Project Based Learning model (PJBL) on learning Indonesian. The problems that arise in learning Indonesian is how far the ability of teachers to implement learning models including PJBL learning model. In the PJBL learning can be used with four important steps that must be actualized in preparation of learning. Such steps are the determination of the question, project planning, scheduling, monitoring, test results, and evaluation experience.
The use of project-based learning model is able to add to the learning experience of students as they were brought into the concrete nature as a manifestation of learning materials. Participants are easier to understand and process as well as learning materials easily remembered and will stick around longer in the memory of learners.

Keywords: Learning Model Project Based Learning (PJBL) the quality of teaching and learning outcomes in subjects Indonesian. 
I. Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan bangsa. Semua orang sepakat bahwa dengan pendidikanlah suatu bangsa menjadi maju dan memperoleh martabat dan harga diri yang besar. Pendidikan pun tentu akan berpengaruh terhadap tarap hidup masyarakatnya.
Telah banyak inovasi yang dilakukan pemerintah demi peningkatan mutu pendidikan nasional. Inovasi itu semua bermuara kepada guru. Gurulah yang menjadi penopang keberhasilan mutu pendidikan. Guru menjadi garda paling depan dalam memperjuangkan dan mempertanggungjawabkan mutu pendidikan bangsa.
Guru yang bermutulah yang menjadi jawabannya. Guru bermutu adalah guru yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya. Usman (1995:3) mengatakan bahwa guru harus dan tanggap terhadap perubahan-perubahan, pembaharuan serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Realita di lapangan menunjukkan masih rendahnya kualitas guru, sehingga berpengaruh terhadap rendahnya kualitas lulusan peserta didik. Peserta didik yang kita bina tidak berkembang baik kemampuan, minat, bakat, dan potensinya yang dimiliki anak itu. Dengan demikian tugas guru semakin berat karena mutu pendidikan secara nasional yang menjadi pertaruhannya.
Salah satu faktor rendahnya mutu guru adalah dalam hal pengelolaan kelas misalnya tidak dikuasainya model pembelajaran sehingga proses pembelajaran di kelas tidak terarah. Kegiatan siswa di kelas ketika pembelajaran berlangsung hampir 90% menyimak cermah guru. Hal ini mengakibatkan siswa jenuh karena kegiatan pembelajaran monoton. Guru tidak mampu membuat aktivitas belajar yang membuat siswa senang, bergairah, semangat, aktif, inovatif, dan kreatif.
Salah satu model pembelajaran yang relevan dengan pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 adalah model Projek Based Learning (PJBL). Model ini masih jarang digunakan guru, padahal melalui model PJBL guru akan mampu menciptakan pengalaman belajar siswa. Aktivitas belajar akan lebih interaktif dan atraktif sehingga siswa tidak akan mengalami kejenuhan karena kegiatan belajar tidak hanya di kelas tetapi juga mencakup luar ruangan kelas, bahkan lingkungan masyarakat di luar sekolah/madrasah peserta didik. Selain itu, siswa terlibat secara langsung atau tidak langsung baik dengan lingkungan alam maupun lingkungan masyarakat.
PJBL dapat diterapkan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, namun di lapangan model PJBL sering dilewatkan para guru. Faktor penyebabya beberapa macam di antaranya guru enggan menggunakan model PJBL karena aktivitas belajar menguras tenaga dan pikiran. Bahkan dalam pelaksanaannya model ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Guru kurang menguasai teknik-teknik aplikasi model pembelajara Projek Based Learning. Dan mungkin guru merasa cukup dengan metode-metode yang selama ini sedang dijalankannya.
b. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah “Bagaimana implementasi model pembelajaran Projek Bbased Learning (PJBL) pada pembelajaran bahasa Indonesia?
c. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan implementasi model pembelajaran Projek Bbased Learning (PJBL) pada pembelajaran bahasa Indonesia.
d. Metode
Metode penulisan yang digunakan adalah metode deskriptif. Alasannya adalah makalah ini digunakan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran dengan menggunakan model Projek Based Manajemen (PJBL)
II. Pembahasan
a. Hakikat Belajar
Belajar adalah modifikasi, suatu proses memperteguh, menyempurnakan tingkah laku melalui pengalaman. Di dalam rumusan ini mengandung makna bahwa belajar merupakan suatu proses kegiatan dan bukan hasil atau tujuan.
Pengertian yang lebih luas, belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, penilaian terhadap sikap nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi, atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan dan pengalaman yang terorganisir. Proses di sini adalah interaksi antara individu dengan suatu sikap, nilai, kebiasaan, pengetahuan dan keterampilan yang menghasilkan perubahan tingkah laku.
Makmun (2004:157) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Dari pendapat Makmun ini memiliki kesamaan dengan pendapat-pendpat di atas. Di antara pendapat-pendpat di atas dapat ditarik benang merah bahwa belajar itu adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku peserta didik yang asalnya buruk berubah menjadi baik.
Belajar menurut konsepsi modern diartikan lebih lengkap lagi yakni proses perubahan tingkah laku yang meliputi pengamatan, pengenalan, pengertian, pengetahuan, perbuatan, keterampilan, perasaan, minat, penghargaan, dan sikap. Jadi, belajar tidak hanya berkaitan dengan bidang intelektual saja, tetapi mengenai seluruh aspek kepribadian.
Belajar selalu menunjukkan suatu proses perubahan tingkah laku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Belajar menurut konsepsi ini menuntut terpenuhinya tiga persyaratan.
1) Adanya bahan pelajaran yang akan dipelajari
2) Adanya kegiatan yang terarah kepada pencapaian tujuan belajar yang diinginkan.
3) Adanya kondisi yang optimal yang direncanakan untuk proses belajar.
Makmun mengemukakan bahwa dalam belajar terdapat perubahan yang bersifat fungsional, material, dan behavioral. Perubahan fungsional adalah perubahan yang dijiwai oleh teori daya yang berpaham nativisme. Menurut teori ini belajar itu adalah jiwa manusia terdiri atas sejumlah fungsi-fungsi yang memiliki daya atau kemampuan tertentu (2004:159).
Kecenderungan yang terjadi bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, belajar akan lebih bermakna apabila anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
b. Hakikat Bahasa
Bahasa merupakan anugrah Tuhan yang tiada tara berharganya. Maka dengan itu bahasa tumbuh sejak manusia itu ada. Bahasa mendampingi terus kehidupan manusia dan berkembang mengiringi majunya zaman. Dengan kata lain seiring dengan perkembangan manusia bahasa pun tumbuh dan bekembang dengan dinamis. Seiring dengan ini Hidayat (2006:21) berpendapat bahwa sejak zaman dahulu, bahkan mungkin semenjak zaman manusia diciptakan, bahasa merupakan salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh kehidupan umat manusia.
Gorys Kerap (2004:1) mengemukakan pengertian bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Harimurti dalam Hidayat (2006:22) mengemukakan pengertian bahasa sebagai sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Bloch and Trager dalam Hidayat (2006: 22) mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi.
Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik benang merah bahwa bahasa merupakan lambang atau simbol. Menurut Bloch dan Trager (dalam Hidayat: 76) fungsinya sebagai alat komunikasi antar kelompok masyarakat. Ini menandakan bahwa bahasa dapat mempererat hubungan sosial melalui kegiatan komunikasi. Hubungan yang terjalin berdasarkan sistem sosial, sistem interaksi, dan sistem budaya kelompok masyarakat.


c. Hakikat Belajar Bahasa
Secara garis besar tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak-anak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Hai ini berati agar siswa mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dengan baik menggunakan media bahasa Indonesia (Samsuri, 1980)
Pengajaran bahasa Indonesia diupayakan mungkin menguasai keterampilan berbahasa Indonesia, seperti:
1. Menulis laporan ilmiah atau laporan perjalanan
2. Membuat surat lamaran pekerjaan
3. Berbicara di depan umum atau berdiskusi
4. Berpikir kritis dan kreatif dalam membaca
5. Membuat karangan-karangan bebasuntuk majalah, koran, surat-surat pembaca, brosur-brosur, dan sebagainya.
Kegiatan-kegiatan praktis itulah yang menjadi tujuan diberikannya keterampilan berbahasa kepada siswa. Siswa mampu dan bisa melakukan hal-hal yang tertera di atas.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, khususnya standar kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs secara eksplisit dinyatakan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, soaial dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional,nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia diharapkan
1. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri.
2. Guru dapat memusatkan perhatian kepada Pengembangan kompetensi bahasa peserta didik. Dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar
3. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menemukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya
4. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah.
5. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia
6. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
Tujuan Mata pelajaran Bahasa Indonesia
Tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia adalah agar peserta didik
1. Berkomunikasi secara aktif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektualserta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastrauntuk memperluas wawasan, dan memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Menghargai dan membanggakan bahasa dan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Sedangkan ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakupi komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek:
1) Mendengarkan
2) Berbicara
3) Membaca, dan
4) Menulis
d. Model pembelajaran Projek Based Learning (PJBL) pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Kita mengenal banyak model pembelajaran dalam proses pembelajaran di kelas dimulai dari model pembelajaran yang klasik sampai dengan model pembelajaran yang modern. Dari sekian banyak model pembelajaran ini beberapa model perlu dikuasai guru dalam rangka menciptakan proses pembelajaran yang dinamis dan menyenangkan bagi peserta didik.
Kurikulum 2013 mengisyaratkan bahwa pembelajaran di kelas harus menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik mengharuskan guru menyusun strategi atas lima kegiatan. Di antara limat kegiatan itu adalah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosi, dan mengkomunikasikan. Kelima langka tersebut harus secara integratif terlaksana dalam kegiatan pembelajaran.
Dari pendekatan saintifik terdapat model pembelajaran yang relevan di antaranya Pembelajaran Berbasis Proyek (Projek Based Learning), pembelajaran Berbasis Produk (Produck Based learning), dan Pembelajaran Berbasis Porofolio. Ketiga model pembelajaran tersebut dapat diterapkan sesuai dengan karakter materi pembelajaran masing-masing.
Model Pembelajaran Projek based learning (PJBL) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
Jika kita amati proses pembelajaran di kelas, guru biasa menyampaikan materi pembelajaran secara abstrak. Peserta didik tidak di bawa ke arah yang kongkrit atau ke arah dunia nyata sehingga anak hanya hapal bukan paham. Dampak dari pelaksanaan pembelajaran tersebut anak tidak mampu menghubungkan antara materi pembelajaran yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan yang telah diperoleh itu diterapkan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Konsep-konsep yang telah dipelajari hanya diingat sebentar. Karena memang peserta didik hanya menghapal kemudian hilanglah semua konsep-konsep itu dalam beberapa saat yang tidak lama. Hal ini mengakibatkan pembelajaran yang berlangsung tidak berdampak apa-apa dalam kehidupannya.
Melalui model pembelajaran PJBL diharapkan mampu meminimalisasi semua permasalahan di atas. Siswa tidak hanya menghapal tetapi juga paham, mengingat lebih lama, dan mampu mengaplikasikan materi yang telah dipelajarinya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Atau setidaknya siswa mampu melakukan tindakan untuk menyusun dan mempraktikan semua materi pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini karena PJBL dirancang agar mampu menyelesaikan permasalahan yang kompleks dengan melakukan investigasi lapangan dan memahaminya.
Model pembelajaran Projek based Learning (PJBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan dalam pembelajaran peserta didik. Dalam hal ini peserta didik di arahkan melakukan kegiatan lapangan untuk mengeksplorasi, mengobservasi, mengamati, menginterpretasi, dan menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang materi pembelajaran.
Dalam model PJBL peserta didik di bawa dalam aktivitas yang nyata untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuannya sehingga menghasilkan pengalaman belajar yang berguna dan bermanfaat.
Dalam PJBL pembelajaran di mulai dari proses menemukan (inquiri) dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question). Kemudian dibimbing dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan materi pelajaran dengan kegiatan-kegiatan nyata di lapangan.
Apa saja keuntungan pembelajaran dengan menggunakan Projek based Learning itu?
1) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
3) Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
4) Meningkatkan kolaborasi.
5) Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
6) Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber.
7) Memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik secara nyata dan langsung pada konteks kehidupan sehari-hari.
8) Kegiatan pembelajaran anak menjadi atraktif, hidup, dan aktif.
9) Terciptanya proses pembelajaran yang menyenangkan
Langkah – langkah Operasional pembelajaran PJBL
Langkah pembelajaran pertama yaitu penentuan pertanyaan. Pada laangkah ini guru memberikan rangsangan berupa pertanyaan-pertanyaan esensial yang mengarah ke aktiviatas dalam mengerjakan tugas proyek. Pertanyaan ini menjadi tolok ukur dalam melakukan kegiatan dalam rangka melaksanakan proyek. Di samping itu guru harus memilih topik yang sesuai dengan karakter model pembelajaran PJBL dan topik itu di angkat sesuai pula dengan kondisi, kebutuhan dan karakteristiki peserta didik.
Langkah pembelajaran kedua adalah menyusun perencanaan proyek. Langkah ini dilakukan antara peserta didik dengan guru secara kolaboratif. Guru bersifat membantu terhadap perencanaan yang dibuat peserta didik. Perencanaan proyek harus menjadi bagian dari penilaian guru sehingga guru tau bagaimana mereka melakukan tugas nanti di lapangan. Perencanaan proyek berisi langkah-langkah melakukan tugas lapangan dalam rangka menjawab pertanyaan esensial tadi dan menentukan alat-alat dan bahan yang diperlukan dalam penyelesaian proyek.
Langkah ketiga adalah menyusun jadwal. Langkah ini dilakukan setelah perencanaan selesai di susun. Perencanaan sudah matang dan teruji kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di lapangan. Jadwal pelaksaan perencanaan dilakukan bersama guru. Dalam jadwal ini harus memuat waktu memulai tugas dilaksanakan dan waktu batas akhir penyelesaian proyek.
Langkah keempat adalah memonitoring. Langkah ini guru mengadakan pengamatan dan memonitor terhadap proses pelaksanaan proyek. Peran guru sebagai mentor terhadap peserta didik. Seluruh aktivitas peserta didik harus termonitor guru dan nanti akan menjadi bagian dari penilaian. Untuk memudahkan proses memonitor guru harus membuat rubrik monitoring sehingga setiap proses dan langkah kegiatan peserta didik terpantau dan terrekam dalam lembar monitoring.

III. Kesimpulan
Permasalahan yang timbul dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah seberapa jauh kemampuan guru mengimplementasikan model-model pembelajaran termasuk model pembelajaran PJBL. Di dalam pembelajaran PJBL dapat digunakan dengan empat langkah penting yang harus teraktualisasi dalam persiapan pembelajaran. Langkah-langkah tersebut adalah penentuan pertanyaan, menyusun perencanaan proyek, menyusun jadwal, monitoring, menguji hasil, dan evaluasi pengalaman.
Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek mampu menambah pengalaman belajar peserta didik karena mereka dibawa ke alam kongkret sebagai pengejewantahan dari materi pembelajaran. Peserta lebih mudah memahami dan proses serta materi pembelajaran mudah diingat dan akan melekat lebih lama dalam memori peserta didik.
IV. Saran
Penggunaan Pembelajaran Berbasis projek dapat diterapkan untuk beberapa materi pembelajaran di bahasa Indonesia termasuk pembelajaran lain sesuai dengan karakter kompetensi dasar. Teknik yang digunakan pun dapat dipilih sesuai dengan karakter model Pembelajaran Berbasis proyek.
 
DAFTAR PUSTAKA

Gorys Kerap. 2004. Komposisi sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Plores: Nusa Indah.

Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa Mengungkapkan Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 20016 tentang Standar Proses

Makmun, Abin Samsudin. 2004. Psikologi pendidikan Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Moleong J. Lexy. 2008. Metode Penelitian Kualitatif: Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Samsuri, 1980. Analisa Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Usman, Moch. Uzer.2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya



Rekonstruksi pendidikan idul adha

Rekonstruksi Pendidikan Idul Adha Oleh  Apep Munajat (Penulis Adalah Pengurus Pergunu Kabupaten Cianjur, Mahasiswa Program Doktor UN...